Perencanaan Kehamilan Dengan Terapi Hormon

Perkembangan dan terobosan di dunia medis telah menemukan solusinya dengan terapi hormon yang bisa dijalankan oleh pasangan yang mengidap gangguan hormon maupun pasangan yang berencana menjalani aktivitas inseminasi atau bayi tabung. Pada pria, terapi hormon dilakukan kalau sperma laki-laki tersebut dinyatakan abnormal. Sedangkan pada wanita, terapi hormon dilakukan kalau tidak terjadi ovulasi.
Menurut dr.Tri Bowo Hasmoro, androlog dari RSIA Hermina Jatinegara, persoalan infertilitas bisa dialami oleh kedua pihak dari pasangan sehingga terapi hormon dilakukan sebagai upaya mengatasi infertilitas. Misalnya kalau hormon yang menghasilkan FSH (Follicle Stimulating Hormon) dan LH (Luteinezing Hormon) di dalam badan kurang sehingga memperngaruhi jumlah sperma pada laki-laki dan menjadikan gangguan ovulasi pada wanita.
Prinsip Kerja Program Hamil dengan Terapi Hormon
Beberapa hormon yang terkait dengan fungsi kesuburan pada laki-laki dan perempuan diantaranya:
1. LH (Luteinezing Hormon), yaitu hormon yang mengatur ovulasi pada wanita.
2. FSH (Follicle Stimulating Hormon), yaitu hormon yang membantu pembentukan estrogen
3. Hormon estrogen yang diproduksi di dalam indung telur, plasenta dan ginjal kecil sebagai indikasi kesuburan wanita
4. Hormon tiroid, yaitu hormon yang merangsang pematangan indung telur. Kekurangan hormon ini akan menjadikan metabolisme badan terganggu
5. Hormon progesterone, yaitu hormon pelindung kehamilan
Jika hormon-hormon di atas terindikasi mengalami gangguan, maka dokter kandungan akan menambahkan hormon dari luar sebagai upaya program hamil dengan terapi hormon. Berikut cara kerjanya:
1. Pasien diberi antihormon estrogen sebagai pemicu keluarnya FSH. Obat diberikan pada hari ke 4,5,6 pada siklus haid selama enam kali siklus haid. Dosis obat sanggup ditingkatkan sesuai hasil terapi. Cara ini dilakukan sebagai upaya pemicu kesuburan.
2. Bila sehabis enam kali siklus haid belum ada hasilnya, maka pasien diberi suntikan terapi hormon pada hari keenam hingga hari kesepuluh siklus haid.
3. Jika kedua langkah tersebut belum berhasil, maka akan dilakukan manipulasi hormon dengan penyuntikan hormon GnRH (Gonadotropin-Releasing Hormon) untuk merangsang keluarnya FSH dan LH.
Pemeriksaan Menyeluruh Bagi Pasangan
Sebelum melaksanakan terapi hormon, pasangan harus menjalani serangkaian tahap investigasi apakah penyebab ketidakssuburannya dikarenakan oleh adanya gangguan hormon dalam badan pihak laki-laki dan wanita. Misalnya pada pria, jumlah sperma yang normal yaitu 2-5 ml atau 40-100 juta sperma dengan pH 7-8, kekentalan normal, berwarna putih, mempunyai kepala dan ekor serta bisa bergerak lincah. Jika jumlahnya kurang, akan dilakukan investigasi untuk mengetahui normal tidaknya bentuk sperma. Sedangkan pada perempuan akan diperiksa apakah siklus haidnya mengeluarkan telur atau tidak. Suntikan terapi hormon pada laki-laki sanggup dilakukan kapan saja dan lebih fleksibel.
Umumnya suntikan terapi hormon pada laki-laki dilakukan dua hari sekali dengan masa kerja 3-7 hari. Sehingga dalam jangka waktu tersebut, pasangan tidak diperkenankan berafiliasi intim. Selanjutnya, dokter akan memantau perkembangan dari terapi suntikan hormon melalui investigasi sperma dan investigasi hormon sehabis terapi.
Beberapa pasangan menentukan melanjutkan ke aktivitas bayi tabung sehabis melaksanakan terapi hormon. Dokter andrologi menyarankan sebaiknya terapi dilakukan sedini mungkin dan jangan menunda-nunda. Sebab, di usia muda pasangan masih mempunyai sel badan yang manis sehingga memudahkan lancarnya program hamil ini, yaitu di usia 30-40 tahun. Jika sehabis setahun menikah pasangan suami istri melaksanakan kekerabatan secara teratur, siklus haid sang istri tidak bermasalah dan tidak mengenakan alat kontrasepsi tetapi belum kunjung hamil, sebaiknya eksklusif berkonsultasi dengan dokter ahli.
0 Response to "Perencanaan Kehamilan Dengan Terapi Hormon"
Posting Komentar